Rabu, 03 Maret 2010

PENGORBANAN DALAM MERAIH PRESTASI

oleh : Langgeng Basuki

Makna Pengorbanan
Secara logika pengorbanan berarti merelakan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi nilainya. Sesuatu yang kita korbankan mestilah nilainya lebih rendah dari pada sesuatu yang ingin kita capai dengan pengorbanan itu. Misalnya, seorang peserta Ninja Warrior rela untuk meninggalkan pekerjaannya dan menceburkan diri dalam latihan lebih maksimal demi memenangkan kompetisi itu. Apa yang ingin dicapainya dalam kompetisi itu di matanya memiliki nilai yang lebih tinggi dari pekerjaan yang dikorbankannya.

Contoh lain misalnya ketika seorang Muslim rela mengorbankan uangnya untuk membeli seekor binatang ternak yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang demi mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT. Pahala dari Allah SWT merupakan sesuatu yang tinggi nilainya dari beberapa ratus ribu atau beberapa juta uang yang dibelanjakan untuk berkorban.
Tidaklah bisa diterima nalar manakala seseorang mengorbankan sesuatu yang sangat tinggi nilainya hanya untuk meraih hal yang remeh temeh alias lebih rendah nilainya.

Keniscayaan Pengorbanan
Dalam kehidupan ini pengorbanan adalah suatu keniscayaan. Setiap kita hendak meraih sesuatu yang bernilai kita harus berkorban. Para pedagang yang pergi ke pasar di pagi buta, pekerja yang bekerja dari pagi hingga sore atau bekerja di malam hari, para petani yang rela bermandi peluh di terik mentari, dan yang semisalnya, mereka semua mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk mencapai sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan yakni nafkah keluarga.
Para olahragawan professional sekalipun mereka juga harus rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk secara rutin berlatih agar prestasinya semakin meningkat.
Demikian halnya dengan para pelajar yang harus rela pagi-pagi berangkat ke sekolah. Hal itu dilakukan karena ingin mendapatkan ilmu sebagai bekal dalam menjalani kehidupan. Ilmu dianggap mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu dan tenaga yang dikorbankan itu.

Pengorbanan untuk meraih prestasi.
Ketika seorang pelajar ingin meraih prestasi gemilang maka iapun harus berkorban. Tidak mungkin prestasi gemilang bisa diraih dengan bermalas-malas atau belajar yang ala kadarnya. Dia harus rela mengorbakan waktu bermainnya demi mempelajari materi-materi pelajaran, mendiskusikannya dengan teman-teman, mencari tambahan materi di perpustakaan atau melalui internet, dan mengerjakan soal-soal latihan. Para jawara Olimpiade Sain yang berhasil mengukir prestasi baik di tingkat daerah, nasional, atau internasional, mereka juga mengorbankan lebih banyak waktu untuk belajar, melakukan eksperimen, dan berlatih mengerjakan soal. Bahkan ketika mereka sudah mengikuti pemusatan latihan mereka harus rela meninggalkan sekolah dan ketinggalan pelajaran lain (yang itu juga tetap harus dikejar). Semua itu mereka lakukan demi sebuah prestasi yang sangat berharga dari pada semua yang dikorbankan.
Bagaimana halnya dengan orang mencoba meraih prestasi secara tidak jujur? Bukankah mereka juga berkorban dengan melakukan hal-hal tidak jujur untuk meraih prestasi? Sesungguhnya mereka telah keliru menempatkan mana yang lebih tinggi nilainya dan mana yang lebih rendah. Seharusnya kejujuran nilainya lebih tinggi dari pada prestasi semu yang tidak melukiskan kondisi yang sebenarnya. Dengan demikian mereka tidaklah sedang berkorban melainkan tengah melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.
Karenanyalah, saya mengajak para siswa yang sebentar lagi menghadapi ujian atau ulangan agar siap-siap berkorban. Bahkan pengorbanan itu sudah seharusnya dilakukan dari sekarang. Korbankalah sebagian waktu bermain kalian untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang akan diujikan nanti. Korbankanlah uang jajan kalian untuk fotokopi soal-soal latihan atau mendownloadnya di warnet.
Akhirnya, mudah-mudahan kalian berhasil mengukir prestasi gemilang dalam ujian atau ulangan yang akan datang. Salam Sukses [lb]

0 komentar:

Posting Komentar