Kamis, 04 Maret 2010

Tips Menghadapi Ujian Nasional

Persiapan untuk menghadapi ujian adalah hal yang paling penting untuk menentukan kesiapan dalam mengerjakan semua soal yang ada.

Berikut ini ada 10 tips untuk membantu adik-adik kita yang masih duduk di bangku sekolah dalam mengerjakan ujian:
1. Datanglah dengan persiapan yang matang dan lebih awal.
Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.

2. Tenang dan percaya diri.
Ingatkan dirimu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.

3. Bersantailah tapi waspada.
Pilihlah kursi atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan kamu mendapatkan tempat yang cukup untuk mengerjakannya. Pertahankan posisi duduk tegak.

4. Preview soal-soal ujianmu dulu (bila ujian memiliki waktu tidak terbatas)
Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.

5. Jawab soal-soal ujian secara strategis.
Mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang kamu ketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang seharusnya kamu kerjakan adalah:
- soal paling sulit
- yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya
- memiliki nilai terkecil

6. Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak.
Mula-mula, abaikan jawaban yang kamu tahu salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat kamu abaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika kamu tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila kamu yakin akan koreksi yang kamu lakukan.

7. Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin kamu tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak kamu diskusikan dulu.

8. Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya.
Tulis kalimat pokokmu pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esaimu. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poinmu dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatanmu.

9. Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.

10. Analisis hasil ujianmu.
Setiap ujian dapat membantumu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai denganmu. Tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir.

Sumber: www.studygs.net

Perlu diingat, belajarlah jauh-jauh hari sebelum hari ujian tiba. Usahakan jangan menggunakan sistem kebut semalam. Justru pada hari-hari mendekati ujian, badan dan pikiran harus rileks, makanlah makanan yang bergizi.

Selanjutnya ...

Rabu, 03 Maret 2010

PENGORBANAN DALAM MERAIH PRESTASI

oleh : Langgeng Basuki

Makna Pengorbanan
Secara logika pengorbanan berarti merelakan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi nilainya. Sesuatu yang kita korbankan mestilah nilainya lebih rendah dari pada sesuatu yang ingin kita capai dengan pengorbanan itu. Misalnya, seorang peserta Ninja Warrior rela untuk meninggalkan pekerjaannya dan menceburkan diri dalam latihan lebih maksimal demi memenangkan kompetisi itu. Apa yang ingin dicapainya dalam kompetisi itu di matanya memiliki nilai yang lebih tinggi dari pekerjaan yang dikorbankannya.

Contoh lain misalnya ketika seorang Muslim rela mengorbankan uangnya untuk membeli seekor binatang ternak yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang demi mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT. Pahala dari Allah SWT merupakan sesuatu yang tinggi nilainya dari beberapa ratus ribu atau beberapa juta uang yang dibelanjakan untuk berkorban.
Tidaklah bisa diterima nalar manakala seseorang mengorbankan sesuatu yang sangat tinggi nilainya hanya untuk meraih hal yang remeh temeh alias lebih rendah nilainya.

Keniscayaan Pengorbanan
Dalam kehidupan ini pengorbanan adalah suatu keniscayaan. Setiap kita hendak meraih sesuatu yang bernilai kita harus berkorban. Para pedagang yang pergi ke pasar di pagi buta, pekerja yang bekerja dari pagi hingga sore atau bekerja di malam hari, para petani yang rela bermandi peluh di terik mentari, dan yang semisalnya, mereka semua mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk mencapai sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan yakni nafkah keluarga.
Para olahragawan professional sekalipun mereka juga harus rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk secara rutin berlatih agar prestasinya semakin meningkat.
Demikian halnya dengan para pelajar yang harus rela pagi-pagi berangkat ke sekolah. Hal itu dilakukan karena ingin mendapatkan ilmu sebagai bekal dalam menjalani kehidupan. Ilmu dianggap mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu dan tenaga yang dikorbankan itu.

Pengorbanan untuk meraih prestasi.
Ketika seorang pelajar ingin meraih prestasi gemilang maka iapun harus berkorban. Tidak mungkin prestasi gemilang bisa diraih dengan bermalas-malas atau belajar yang ala kadarnya. Dia harus rela mengorbakan waktu bermainnya demi mempelajari materi-materi pelajaran, mendiskusikannya dengan teman-teman, mencari tambahan materi di perpustakaan atau melalui internet, dan mengerjakan soal-soal latihan. Para jawara Olimpiade Sain yang berhasil mengukir prestasi baik di tingkat daerah, nasional, atau internasional, mereka juga mengorbankan lebih banyak waktu untuk belajar, melakukan eksperimen, dan berlatih mengerjakan soal. Bahkan ketika mereka sudah mengikuti pemusatan latihan mereka harus rela meninggalkan sekolah dan ketinggalan pelajaran lain (yang itu juga tetap harus dikejar). Semua itu mereka lakukan demi sebuah prestasi yang sangat berharga dari pada semua yang dikorbankan.
Bagaimana halnya dengan orang mencoba meraih prestasi secara tidak jujur? Bukankah mereka juga berkorban dengan melakukan hal-hal tidak jujur untuk meraih prestasi? Sesungguhnya mereka telah keliru menempatkan mana yang lebih tinggi nilainya dan mana yang lebih rendah. Seharusnya kejujuran nilainya lebih tinggi dari pada prestasi semu yang tidak melukiskan kondisi yang sebenarnya. Dengan demikian mereka tidaklah sedang berkorban melainkan tengah melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.
Karenanyalah, saya mengajak para siswa yang sebentar lagi menghadapi ujian atau ulangan agar siap-siap berkorban. Bahkan pengorbanan itu sudah seharusnya dilakukan dari sekarang. Korbankalah sebagian waktu bermain kalian untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang akan diujikan nanti. Korbankanlah uang jajan kalian untuk fotokopi soal-soal latihan atau mendownloadnya di warnet.
Akhirnya, mudah-mudahan kalian berhasil mengukir prestasi gemilang dalam ujian atau ulangan yang akan datang. Salam Sukses [lb]

Selanjutnya ...